METROUPDATE.ONLINE – BENGKULU – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu mendorong penguatan identitas atau branding crude palm oil (CPO) sebagai komoditas unggulan daerah. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Bengkulu secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, dalam Focus Group Discussion (FGD) Akselerasi Ekspor CPO Atas Nama Provinsi Bengkulu untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan di Hotel Batuah Mukomuko, Rabu (4/11/2026).
Wahyu mengatakan, kejelasan identitas asal produk sawit Bengkulu diperlukan agar komoditas yang dihasilkan daerah dapat tercatat secara tepat dalam statistik perdagangan.
Menurutnya, pencatatan yang akurat tidak hanya memperkuat identitas komoditas unggulan Bengkulu, tetapi juga menjadi salah satu dasar penting dalam perencanaan dan pengembangan ekonomi daerah.
“Produk komoditas sawit Bengkulu harus memiliki branding yang jelas demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ungkap Wahyu.
Dalam FGD tersebut, turut dibahas persoalan pengiriman CPO asal Bengkulu yang sebagian dikirim melalui Pelabuhan Teluk Bayur, Sumatera Barat. Kondisi ini menyebabkan asal komoditas Bengkulu belum sepenuhnya tercermin dalam pencatatan statistik perdagangan daerah.
Menanggapi persoalan tersebut, Wakil Gubernur Bengkulu Mian menegaskan bahwa mulai Desember 2026, setiap pengiriman CPO dari pabrik kelapa sawit (PKS) di Bengkulu ditargetkan wajib mencantumkan label asal Bengkulu.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperbaiki pencatatan produksi dan distribusi sawit sekaligus memperkuat posisi pemerintah daerah dalam memperjuangkan optimalisasi Dana Bagi Hasil (DBH) perkebunan sawit dari pemerintah pusat.
Mian menyebutkan, potensi produksi kelapa sawit Bengkulu mencapai lebih dari 1,5 juta ton per tahun. Sementara khusus Kabupaten Mukomuko, volume komoditas sawit yang dikirim mencapai lebih dari 700 ribu ton.
Ia menilai kejelasan data asal komoditas penting agar kontribusi sektor perkebunan sawit terhadap perekonomian daerah dapat tercatat secara optimal.
FGD tersebut turut dihadiri Bupati Mukomuko Choirul Huda, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu Desman Siboro, perwakilan Dinas TPHP Provinsi Bengkulu, serta Kepala Bapperida Provinsi Bengkulu Yuliswani.**









